BAB 1
PATENVILLES
A
|
Ku menatap
kearah luar dan memperlihatkan kebosananku kepada dunia luar. Namaku Maria
Kumer, sebuah nama yang aneh dan asing untuk gadis lugu berumur 19 tahun,
dengan warna kulit sawo matang dan berwajah oriental Indonesia yang akan hidup
di Amerika. Di Indonesia aku sering dipanggil dengan sebutan Mary oleh teman-temanku,
ya… walaupun aku berwajah oriental tapi aku mempunyai penampilan yang menarik
terutama pada penampilan rambutku. Tapi di dalam penampilanku yang sempurna. sebenarnya
banyak rahasia yang aku pendam dan harus ku rahasiakan kepada orang lain tapi
mungkin aku akan membuka rahasia itu nanti.
Aku
pergi dan berpindah ke Amerika karena mengikuti ayahku yang diminta kliennya
untuk pindah ke Amerika. Ayahku yang bernama Budiman sebenarnya adalah seorang
dukun yang terkenal di Indonesia, beliau mendapatkan tawaran dari salah satu
kliennya yang aku panggil dengan sebutan tuan Logan untuk berpindah ke sudut
Amerika agar mereka mudah untuk terhubung. Pada awalnya ayahku menolaknya tetapi
ketika ibuku meninggal tawaran itupun diterima agar dia bisa melupakan kenangan
yang sangat berharga semasa ibuku hidup. Tapi tetap saja bagiku kenangan itu
bukanlah sesuatu yang perlu dilupakan, dan aku tidak menyukai perpindahan ini.
Dalam perjalanan ini aku merasa sangat
bosan karena sejauh mata memandang yang aku lihat hanya pohon-pohon tua yang
sepi tanpa terdengar suara hewan sama sekali. Sungguh tempat yang sangat indah
dan sesuai dengan apa yang aku sukai yaitu kesunyian, tapi entah mengapa aku
merasa ada yag aneh dengan tempat ini, menurutku Amerika adalah Negara yang
sangat besar tapi kenapa masih ada tempat yang sesunyi ini dan bahkan sangat
sunyi. Sesaat ketika aku memandang kearah luar jendela mobil ku aku melihat
sekilas bayangan yang berlari sangat cepat dan seakan-akan mengintai kami.
“Apa
kau melihat itu, yah.” Kataku dalam bahasa indonesia sambil memegang erat
tangan ayahku.
“Apa!
Em.. mungkin itu hanya hewan atau kau hanya sedang berhalusinasi saja karena
berada di tempat yang asing.” Jawab ayahku dengan wajah serius dan mencoba
berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil tua ini. Mungkin benar jika aku
berhalusinasi, cukup dimengerti jika seseorang mudah berhalusinasi di tempat
yang sangat sepi ini.
Dari perjalanan yang sangat jauh dan
membosankan ini, akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah tua yang bertembok-kan
kayu yang berada di tengah hutan yang luas. Tempat ini sangat merupakan tempat
yang sangat terpencil disbanding dengan desa-desa lain di luar sana, tapi
kelebihan dari tempat ini adalah suasana yang sangat sejuk dan masih terdengar
suara kicauan burung, dan aku harap aku tidak akan bertemu hewan buas disini. Di
dalam hatiku sebenarnya terdapat banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada ayahku
saat ini, pertanyaan yang timbul dari perasaan aneh yang datang ketika kami
memasuki perbatasan hutan, tapi mungkin tidak akan aku tanyakan untuk saat ini.
Akhirnya rasa lelah ku akibat duduk
berlama-lama di mobil tua ini selesai. Aku turun dari mobil ini dengan perasaan
senang tapi juga sedih karena akhirnya perpisahan-ku dengan tempat asalku
benar-benar terjadi, tapi aku harus menerima keputusan ayahku saat ini dan
menerima halaman baru di hidupku ini. Aku mulai menyamakan tempat ini dengan
tempatku dulu. Aku tidak bermaksud untuk membandingkan kelebihan dan
kekurangannya, tapi aku hanya terheran-heran saja dengan kondisi yang sangat
berbeda dari tempatku dulu.
“Tempat
apa ini, banyak rumah yang berjejer di sekitar rumah ini, tapi aku sama sekali
tidak merasakan kehadiran manusia.” Tanyaku sambil perlahan mendekati ayahku
yang sedang menyalakan api untuk rokoknya.
“Bagus
bukan, bukankah kita menyukai tempat yang sejuk dan tenang seperti tempat yang
dinamakan desa Patenvilles ini.” Sahut ayahku yang terus menghisap
cerutunya. Sebenarnya aku mendengar pembicaraan antara ayahku dengan tuan logan
waktu itu. Waktu itu tuan logan menawarkan sebuah tempat di samping
apartemennya, akan tetapi ayahku menginginkan tempat yang jauh dari keramaian
dan mempunyai sejarah magis sehingga ditawarkan-lah tempat ini oleh tuan logan.
Tuan Logan mengatakan bahwa Patenvilles mempunyai sejarah magis yang sangat
misterius, waktu itu tuan logan menceritakan bahwa Patenvilles dulunya adalah
sebuah desa ditengah hutan yang berpenduduk, akan tetapi semua penduduk yang
tinggal di Patenvilles menghilang entah kemana.
Tinggal di Patenvilles merupakan
tantangan bagi ayahku. Tidak ada rasa takut sama sekali di raut wajahnya, hanya
raut wajah serius yang selalu diperlihatkan-nya kepada orang lain. Patenvilles
adalah tempat yang bagus untuk perkembangan karir ayahku, sehingga ayahku akhirnya
memilih tempat ini. Sedangkan menurutku Patenvilles adalah tempat yang cocok
untukku, tapi mungkin aku harus lebih membiasakan hidup di tempat baru ini. Ada
hal yang mulai aku sukai di tempat ini, mulai dari suasana rindangnya, sunyi-nya,
dan suasana yang masih alami di tempat ini, dan aku harap disini ada sebuah
taman bunga. Rahasia yang terjadi di tempat ini bagiku adalah sebuah nilai
lebih yang ada di tempat ini.
Dalam diamku ada sebuah bisikan halus
selalu mendera-ku seakan-akan ingin menyampaikan suatu rahasia kepadaku. Come on, come on, kata-kata itu terus
terngiang di telingaku, betapa membuatku merasa terganggu tapi tidak pernah ku
hiraukan sama sekali. Berkali-kali aku meyakinkan diri untuk bersikap netral
seperti yang telah aku lakukan sebelumnya, tetapi perasaan seperti diintai
terus saja menggangguku hingga terdengar suara klakson mobil dan membuatku terkejut.
Nampak seorang pria berjas putih yang bertubuh besar dan berkepala botak turun
dari mobil sambil memegangi tongkat berwarna coklat keemasan, dialah tuan Logan
yang pernah aku bicarakan tadi.
“Hai tuan Budiman, apa kabarmu hari
ini? Senang rasanya bisa melihatmu di Negeri ini… Bagaimana, apa kau suka
tinggal disini?” Sambut tuan Logan dengan bahasa inggris yang fasih dan senyum
yang sangat lebar sehingga aku bisa memasukan tiga jariku di dalamnya. Ayahku
tidak mejawab pertanyaan yang diberikan oleh tuan Logan dan hanya sedikit
memandangi tuan Logan yang terlihat senang, itulah sifat ayahku.
“Emm.. bagaimana jika kita
membicarakan tentang kelanjutan bisnis saya dan perjalanan anda di dalam rumah
saja” Kata tuan Logan yang mulai berkeringat dan memegang pundak ayahku seraya
berjalan menuju dalam rumah. Aku berjalan menuju kearah mobil untuk mengambil
tas dan plastik tempat makanan yang terletak di kursi belakang mobil. Ketika
aku menutup pintu mobil suara bisikan itu terdengar lagi, dan betapa
terkejutnya aku ketika sekilas terlihat sesosok bayangan manusia yang mengintip
di balik pepohonan hutan depan rumah. Hal itu memang tidak membuatku takut
walau aku sedikit terkejut, tapi bayangan itu terus ada di pikiranku bahkan
sewaktu aku membuka pintu rumah.
Ketika aku memasuki rumah tua ini ayah
masih mendengarkan kata-kata tuan Logan di atas kursi yang masih terbungkus
kain putih. Aku berjalan menyusuri sudut di rumah yang sudah tua, ada banyak
benda milik ayahku yang sudah terlebih dahulu sampai dan tertata rapi walau
masih terbungkus kain putih. Aku berjalan-jalan dan melihat-lihat isi dan
bentuk dalam rumah yang masih terdapat lukisan tentang penduduk yang aku
perkirakan adalah penduduk Patenvilles, selain lukisan juga terdapat tanda
bekas tempat bingkai foto di tembok yang mungkin dulu adalah tempat untuk
gambar keluarga bagi penghuni rumah sebelumnya. Melihat keadaan rumah tua ini
membuatku sempat berpikir tentang penghuni sebelumnya beserta penduduk Patenvilles
yang menghilang seperti yang dikatakan tuan Logan. Fantasiku yang seperti anak
umur tiga belas tahun mengatakan bahwa mereka tidak menghilang, hanya saja
terjadi sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh warga di luar hutan.
Kini mataku terarah pada tangga yang
ada di depanku, dan tanpa ragu aku menaiki anak tangga satu demi satu. Mataku
tertuju pada satu ruang kamar yang berada di ujung ketika aku telah tiba di
lantai dua. Perlahan aku membuka pintu tersebut, suara krek terdengar ketika pintu terbuka, terlihat sebuah ruang kamar
yang mempunyai jendela yang berukuran sedang dan mengarah langsung ke hutan
depan rumah. Aku langsung saja membuang tasku ke kursi yang penuh debu dan
langsung membuka jendela agar angin sepoi-sepoi bisa membantuku mengusir
debu-debu yang menempel di setiap perabotan kamar. Kini aku harus membereskan
kamar ini dan mengambil foto seorang wanita yang aku panggil ibu yang ada di
dalam tasku.
Tidak lama setelah aku menyelesaikan
kegiatanku terdengar suara mobil yang sedang dinyalakan
dan beranjak pergi, dan bersamaan dengan menghilangnya suara mobil yang terdengar
tadi terdengar juga suara yang tidak asing di telingaku yang mulai memanggilku.
Serentak aku langsung keluar kamar dan berjalan menghampiri sumber suara yang
terdengar di lantai bawah. Sepertinya aku tahu apa yang diinginkan ayahku.
Tanpa bertanya lagi aku mengambil plastik yang berisi banyak makanan kaleng
yang tadi aku taruh di meja dekat pintu dan pergi ke salah satu ruang yang
terlihat seperti dapur. Kebiasaan ayahku yang selanjutnya adalah selalu merasa
lapar di setiap habis melayani klien yang datang untuk berkonsultasi, tapi
sekarang aku tidak perlu khawatir lagi karena ayahku sekarang hanya melayani
satu orang saja sehingga aku tidak perlu sesering lagi menyiapkan makanan.
“Haruskah
kita memakan makanan kaleng di hari pertama?” kata ayahku dalam bahasa
Indonesia yang datang dari ruang tamu menuju ruang makan.
“Kita
tidak akan sempat untuk memasak makanan untuk hari pertama kan! Sepertinya ayah
tidak perlu terlihat dingin lagi, klien ayah kan sudah pergi.” Jawabku
sambil berbalik melihat ayahku dengan sedikit gurauan. Ayahku sebenarnya mempunyai
sifat yang ramah, apalagi terhadap keluarganya, beliau hanya akan bersifat
dingin terhadap orang lain termasuk kliennya agar wibawa beliau tetap terjaga
di depan orang lain.
“sepertinya
tidak ada lagi yang perlu ayah tutupi lagi, ayah tidak bisa berpura-pura dingin
dihadapan anak ayah yang paling cantik.” Sahut ayahku sambil tertawa kecil.
“ayah….
Sepertinya ayah tidak perlu memanjakanku seperti anak kecil lagi, aku kan sudah
dewasa.” Sahutku sambil memberikan makanan yang sudah ku sediakan di
piring. Ayahku hanya tertawa dan memandangku sejenak. Aku bisa membaca apa yang
dipikirkan oleh ayahku, itu hal yang membuatku sedih tapi juga bersyukur karena
bisa menjadi anaknya. Tubuh ini memang adalah anak kandungnya tapi jiwa ini
adalah orang lain, memang benar jika dikatakan bahwa jiwaku bukanlah jiwa dari
tubuh ini, karena tubuh ini hanyalah tubuh dari gadis yang sudah meninggal
karena kecelakaan yang digerakkan lagi oleh sebuah jiwa yang pernah tersesat di
dunia.
Setelah pembicaraanku dengan ayah aku
beranjak ke lantai dua untuk membersihkan ruanganku dan juga mempersiapkan
hal-hal yang mungkin aku perlukan untuk keperluan kuliahku besok. Berbicara
tentang kuliah, ada banyak hal yang mulai menggerayangi pikiranku, apakah
keadaan di sini sama dengan keadaan di tempatku semula atau sangat berbeda
drastis. Banyak yang aku khayalkan tentang kejadian besok sehingga aku terlupa
bahwa malam ini sudah sangat larut dan aku memutuskan untuk cepat-cepat tidur.
Keesokan harinya aku terbangun dari tempat
tidurku pagi-pagi sekali. Setelah aku membersihkan kamar aku bergegas turun
dari lantai atas menuju lantai bawah untuk membersihkan rumah, menata ruangan
yang kemarin belum aku tata, dan untuk mempersiapkan makanan untuk dua orang.
Pagi ini adalah pagi yang sangat indah di sebuah desa yang berada di tengah
hutan Patenvilles. Tidak terbayangkan keindahan di tempat ini manjadi sangat
aneh karena mempunyai banyak rumah di dalam hutan tapi sama sekali tidak
ditempati oleh manusia, padahal di tempat yang seperti ini seharusnya menjadi surga
bagi para manusia.
Hari ini adalah hari pertamaku di
kampus yang baru, sebaiknya aku harus siap mental dengan keadaan yang berbeda
dengan keadaan yang selalu aku alami. Kali ini ayah mengantarku sampai ke depan
kampus baruku, hal yang pertama kali dilakukannya selama aku bersamanya. Tapi
mungkin ini akan menjadi yang pertama dan terakhir dia mengantarku karena dia berjanji
akan mengambil mobil baru untukku, hadiah dari tuan Logan untuk ayahku karena
bersedia tinggal di Negara paman Sam ini.
Perlahan-lahan aku berjalan menuju ke
dalam gedung kampus dan memasuki gudang ilmu yang akan menuntunku menuju masa
depan. Untuk hari ini aku harus berjuang menyesuaikan diri dengan keramaian
yang berbeda sekaligus aku harus menyelesaikan administrasi-ku disini sebagai
mahasiswi yang baru. Aku mengambil jurusan yang sama ketika aku masih di
Indonesia, yaitu Ekonomi. Aku pikir aku akan melanjutkan semester yang sudah
aku tempuh, akan tetapi disini aku harus mengulang dari semester awal, mungkin
itu karena aku memang kurang terlalu pintar bahkan banyak orang yang bilang kepadaku
bahwa aku adalah orang yang polos.
Setelah aku menyelesaikan administrasi
aku diizinkan untuk langsung mengikuti mata kuliah untuk hari ini. Aku berjalan
menyusuri lorong-lorong dan mencari kelas untuk mata kuliah yang pertama. Aku
langsung memasuki kelas yang aku cari setelah aku menemukannya, hal yang
kurasakan adalah terpaku dan diam tanpa kata ketika aku memasuki kelas yang
sudah dimulai. Semua orang menatapku ketika dosen yang sedang mengajar langsung
menanyakan tujuanku masuk ke kelas ini serta identitasku, dan ketika aku
berkata aku tinggal di Patenvilles semua orang yang berada di dalam kelas
langsung saling bergumam termasuk dosen yang menanyaiku juga langsung mundur
satu langkah. Semua hal yang tidak aku ketahui dan mereka ketahui membuat aku
semakin penasaran karena semua orang merasa terkejut ketika aku mengatakan kata
Patenvilles.
#
Di sisi lain seorang pemuda penghuni Patenvilles
yang mencium keberadaan manusia di dalam hutan, dia bernama Tylor. Tylor adalah
sesosok manusia serigala atau biasa yang disebut dengan Werewolf. Pemuda ini
memiliki ciri berbadan tegap dan berkulit coklat yang dalam bayanganku dia
seperti sosok Tylor Lautner pemeran Jacob dalam film twilight.
“Aku mencium bau manusia.” Gumamnya.
Secara cepat pemuda itu berubah menjadi seekor serigala besar berbulu coklat
dan mencari sumber bau tersebut. Dengan berhati-hati Tylor mencari bau manusia
yang dicium oleh Tylor, bau itu tercium sangat tajam, mungkin saja bau itu
tidak jauh dari Patenvilles atau bahkan ada di dalam hutan Patenvilles. Sejauh
dia berlari dan mencari sumber bau tersebut akhirnya Tylor menemukan dua sosok
manusia yang sedang mengendarai mobil berwarna hijau tua yang sedang melaju
dengan kecepatan sedang menuju ke tengah hutan, tempat dimana desa Patenvilles
berada.
Dengan sangat hati-hati dan
bersembunyi Tylor mengikuti mobil tersebut dari arah samping. Tylor sangat
penasaran dengan kedua manusia tersebut karena sudah lama tidak ada manusia
yang datang ke hutan Patenvilles setelah kejadian 150 tahun yang lalu. Dulu Patenvilles
adalah sebuah desa ditengah hutan yang mempunyai 250 penduduk, akan tetapi desa
tersebut menjadi sangat ditakuti oleh manusia setelah menghilangnya penduduk
setempat. Sebenarnya penduduk Patenvilles tidak benar-benar menghilang, akan
tetapi mereka sebenarnya sudah meninggal karena dimangsa oleh Werewolf. Tentu
saja setelah kejadian tersebut semua penduduk yang ada di desa Patenvilles
berubah menjadi Werewolf, mulai dari anak-anak sampai orang tua dan mereka
semua mulai menyebar ke bagian hutan terdalam setelah kejadian tersebut. setelah
kejadian tersebut tidak ada orang yang mengetahui penyebab pasti menghilangnya
penduduk Patenvilles, banyak orang yang mengira penduduk Patenvillesmenghilang
karena dimangsa oleh gerombolan hewan liar yang ada di dalam hutan dan ada pula
yang mengira mereka menghilang karena kutukan, akan tetapi perkiraan tersebut
tidak bisa diterima karena tidak adanya bukti. Pada saat itu pemerintah kota
sudah melakukan penyelidikan atas kabar yang beredar di Patenvilles, akan
tetapi tidak ada yang bisa dipecahkan karena semua penyelidik yang memasuki
hutan Patenvilles tidak pernah kembali lagi seperti menghilang ditelan bumi
membuat misteri tetap menjadi misteri.
Banyak hal yang membuat Tylor merasa
harus mengikuti mobil tersebut, mulai dari keberadaan manusia yang baru datang
ke tempat ini juga karena mungkin kedatangan manusia ini menjadi tanda akan
kembalinya aktivitas manusia di hutan Patenvilles ini. Sebenarnya Tylor merasa
ada yang aneh pada dua manusia yang dia lihat karena bau manusia yang dia cium
hanya satu orang, sedangkan sosok manusia yang lainnya mengeluarkan bau yang
hampir sama dengan manusia tetapi mempunyai perbedaan yang tidak bisa
dijelaskan. Tylor terus mengejar mobil tersebut, entah kenapa dia merasakan
sesuatu hal yang besar akan terjadi karena kedatangan mereka. Sesekali Tylor
berhenti mengejar dan bersembunyi ketika seorang gadis yang ada di dalam mobil
tersebut mulai merasa curiga dan melihat ke arah luar jendela.
Mobil itu berhenti ketika sampai di
sebuah rumah di pinggir desa Patenvilles. Tylor terus mengintai mereka dari
kejauhan dengan wujud serigalanya, dan saat itu Tylor juga mencium bau manusia
lain yang datang dari arah yang sama dengan mobil hijau itu dan berhenti di
tempat yang sama dengan mobil tersebut. Arah mata Tylor terus mengintai pada
tiga sosok manusia yang saling berbincang di luar rumah, tapi mata Tylor lebih
tertarik untuk melihat sosok gadis berambut hitam panjang yang berada di
samping mobil. Tylor merasakan bahwa bau manusia yang terasa berbeda itu
berasal dari gadis tersebut sehingga matanya lebih banyak tertuju kepada gadis
tersebut. Tylor sangat ingin menghampiri orang-orang tersebut, akan tetapi Tylor
tidak mempunyai keberanian untuk mendekat, bahkan ketika gadis itu berada di
luar rumah sendirian setelah dua orang lain masuk ke dalam rumah. Ada sebuah
perasaan yang memaksakan Tylor untuk mendekat ketika gadis tersebut sendirian,
tapi pada saat langkah pertama Tylor, gadis tersebut seakan merasakan
keberadaannya sehingga Tylor lari dan menghilang di balik semak-semak.
Tylor berlari kencang menuju sebuah
rumah sederhana yang berada di pinggir hutan. Dia mulai berjalan kearah rumah
tersebut ketika mendekati rumah tersebut, disana Tylor sudah ditunggu oleh kedua
orang tua Tylor, tuan dan nyonya Smith, dan ketiga saudaranya, Clark-Shyne-sofy.
Tuan Smith adalah seorang kepala polisi dan nyonya Smith adalah seorang Dokter,
mereka menjalani pekerjaan tersebut tidak lain untuk melindungi manusia dan
menutupi semua keanehan yang dibuat oleh Werewolf lain. Clark adalah kakak
laki-laki pertama Tylor yang juga menjadi polisi untuk membantu tuan Smith.
Shyne adalah kakak laki-laki kedua Tylor yang masih kuliah di kampus yang sama
dengan Tylor, Shyne adalah salah satu Werewolf yang unik dikeluarganya yaitu
jika dia berubah menjadi serigala maka bulunya akan berwarna cokelat dengan
sedikit warna putih yang berkilau, akan tetapi Shyne mempunyai sifat yang
pemarah yang membuatnya lebih kuat diantara keluarganya. Sedangkan Sofy adalah
adik perempuan Tylor yang mempunyai rambut yang pendek dan berwarna hitam.
Walaupun mereka adalah Werewolf tapi mereka masih mempunyai sifat manusia
mereka dan tidak memangsa manusia seperti Werewolf lain.
Perlahan Tylor mendekati kedua orang
tuanya dan saudaranya. Ada beberapa yang ingin dia katakan tetapi informasi
yang dia dapatkan masih terlalu dini untuk diungkapkan.
“Apa sesuatu hal yang perlu kita
waspadai dari kedatangan manusia itu?” Tanya sofy kepada Tylor.
“Aku masih belum tahu. Tapi ada
beberapa hal yang membuatku penasaran, yaitu salah satu manusia yang datang ke Patenvilles
mempunyai bau yang berbeda dari manusia kebanyakan.” Jawab Tylor dengan wajah
berpikir.
“Berarti apa yang kita cium tadi
bukanlah sesuatu yang salah.” Sahut nyonya Smith.
“Tylor, terus amati gerak-gerik
manusia itu, ayah takut kedatangan mereka diketahui oleh Werewolf lain. Dan
kalian, amati daerah sekitar untuk melihat apakah mereka mengetahuinya.” Kata
tuan Smith dengan bijaksana. Tanpa sebuah jawaban empat bersaudara itu langsung
berpaling dan berubah menjadi serigala yang kemudian berpencar menuju ke hutan.
Tylor mendapatkan tugas untuk
mengintai manusia tersebut dan sepanjang hari Tylor terus mengintai rumah tua
tempat manusia itu tinggal. Pandangan yang sangat tajam tidak pernah lepas dari
keadaan dalam rumah, memantau, apakah mereka datang dengan baik ataupun
mempunyai tujuan yang buruk bagi Patenvilles. Sebenarnya para Werewolf adalah
tipe makhluk yang konsisten pada tugas yang dijalaninya terutama dalam hal
mengintai, hanya dengan sekejap mata saja mereka dapat melihat pandangan yang
sangat jauh yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh mata manusia biasa, bahkan
hanya dengan penciuman saja mereka dapat melacak dan mengetahui posisi sesuatu
yang sedang mereka intai. Banyak dari mereka yang lebih suka menunggu dan
bersembunyi dari lawan mereka, tetapi mereka bukanlah pengecut karena
sebenarnya mereka bersembunyi untuk mengetahui kelemahan lawannya.
Malam mulai menyapa di Patenvilles,
tetapi Tylor masih belum mengetahui tujuan dari kedatangan mereka di Patenvilles,
hanya lampu dari dalam rumah yang mulai menyala satu per satu sampai cahayanya
hilang satu persatu dan meninggalkan satu lampu yang masih menyala di kamar
lantai atas. Tylor mulai berharap untuk mempunyai pendengaran yang tajam
seperti yang dimiliki seekor kelinci, sungguh penglihatan dan penciumannya
tidak terlalu berguna dalam pengintaian kali ini.
Entah kenapa Tylor merasa bahwa gadis
itu seakan mengetahui keberadaannya. Itu memang sebuah pemikiran aneh buatnya,
tapi ketika matanya terpusat pada sosok gadis itu seketika itu juga gadis itu
mencari posisi keberadaan Tylor. Tylor merasa seperti seekor elang yang sedang
mengincar seekor tikus di tanah, dimana tikus itu mengetahui bahwa dia sedang
diincar akan tetapi tidak mengetahui posisi pengintai.
Tylor mulai merasa bahwa kedatangan
mereka tidak mempunyai maksud apapun, tapi dia masih harus mengawasi keadaan
sekitar rumah itu agar Werewolf lain bahkan musuh mereka tidak datang ke rumah
itu dan membuat misteri baru bagi dunia luar. Keluarga Smith sudah cukup lelah
untuk menutupi misteri yang terjadi dahulu dan semoga saja tidak akan terjadi
kejadian yang s
ama lagi.
ama lagi.
#
Pada hari dan
waktu yang sama dengan kedatangan keluarga Budiman, terdengar suara ranting
yang saling bergesekan cepat di sisi hutan yang berlawanan. Beberapa hewan
disekitar suara tersebut juga mendadak mati dengan lima bekas luka cakar yang terlihat
seperti cakaran serigala. Ada suatu yang menakutkan mulai datang ke tempat ini,
sesuatu yang pernah terlupakan yang beranjak untuk menghantui manusia lagi.
Mereka adalah korban-korban yang menghilang pada kejadian di Patenvilles dahulu
yang ternyata telah berubah menjadi Werewolf, keluarga Smith menyebut mereka
dengan sebutan Black Shadow.
Black Shadow sangat membenci keluarga
Smith, Black Shadow menganggap bahwa keluarga Smith adalah sekelompok
penghianat yang lebih suka membela bangsa manusia daripada kaum mereka sendiri.
Seperti yang telah di ceritakan bahwa desa Patenvilles dahulu adalah sebuah
desa yang sangat damai, akan tetapi pada suatu malam datang seekor siluman
serigala yang memangsa satu keluarga yang akhirnya menjadi Werewolf dan akhirnya
menyerang seluruh desa. Didalam peristiwa tersebut hanya satu keluarga yang
berhasil bersembunyi dan selamat dengan cara menutupi bau mereka dengan bau
buah-buahan busuk yang menyengat, mereka adalah keluarga smith. Keluarga Smith
pada saat itu terus bersembunyi, mereka sama sekali tidak berani keluar karena
walaupun Werewolf hanya bisa berubah sesuka hati mereka pada malam hari tapi
wujud manusia mereka juga sangat kuat. Keluarga Smith terus bersembunyi dengan
ketakutan mereka sampai suatu saat keadaan menjadi tenang dan datang sekolompok
tim penyelidik yang menyelamatkan mereka, tapi sayang sekali ketika keluarga
Smith keluar dari per-sembunyi-an segerombol-an Black Shadow datang dan
menyerang mereka sehingga mereka menjadi salah satu dari Black Shadow . Pada
awalnya keluarga Smith mempunyai sifat yang sama dengan Black Shadow yang lain
yang tidak bisa mengontrol sifat alami dari Werewolf.
Werewolf dibagi menjadi menjadi dua
golongan, Black Shadow dan Gray Shadow. Seperti yang telah dicerita-kan bahwa
Black Shadow yang dipimpin oleh lelaki dewasa bernama Morgan adalah werewolf
yang sangat membenci kaum manusia, mereka menganggap bahwa manusia adalah
makhluk rendahan karena tidak abadi dan mereka sekarang merasa seperti dewa
karena abadi, maka dari itu Black Shadow berambisi untuk menjadikan seluruh
manusia menjadi Werewolf. Sedangkan Gray Shadow adalah werewolf yang masih
mempunyai perasaan seperti manusia dan ingin kembali menjadi manusia. Gray
Shadow dahulu adalah bagian dari Black Shadow, mereka mempunyai emosi yang
masih brutal dan tidak bisa mengontrol perubahan mereka seperti werewolf lain.
Ketika mereka berwujud serigala mereka tidak akan mengenal sifat manusia
mereka, sifat kemanusiaan mereka akan tetap ada ketika mereka dalam wujud
manusia, dalam wujud tersebut-lah mereka mencoba mencari cara untuk bisa kembali
menjadi manusia. Banyak yang mereka lakukan namun tidak ada yang dapat mereka
temukan, tapi mereka berhasil menemukan cara mempertahankan sifat kemanusiaan
mereka dalam wujud serigala dan mengontrol perubahan mereka baik di siang hari.
Berita tentang hilangnya orang-orang
di hutan Patenvilles sudah menyebar di penjuru kota, sehingga tidak ada orang
yang berani untuk mengunjungi hutan Patenvilles. Tidak adanya manusia yang
datang ke hutan Patenvilles membuat Black Shadow lain memutuskan untuk menyerang
manusia di dunia luar dan tentu saja keputusan itu ditentang oleh Gray Shadow. Pertentangan
tersebut menjadikan peperangan yang sangat sengit antara Black Shadow dengan
Gray Shadow. Peperangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Gray Shadow yang
mempunyai indra dan kemampuan yang lebih hebat daripada Black Shadow, kemampuan
yang sangat menakjubkan akibat cara yang mereka tempuh untuk menjadi manusia
kembali.
Pada peperangan yang di-menang-kan
oleh Gray Shadow tersebut mmbuat Blak Shadow merasa terpojok sehingga Black
Shadow yang dipimpin oleh Morgan memutuskan untuk menghilang. Patenvilles kini
kembali tenang lagi tetapi Gray Shadow masih merasa bahwa Black Shadow akan
tetap menyerang manusia di dunia luar. Akhirnya Gray Shadow memutuskan untuk
membaur dengan manusia dan mencari sekaligus menghalangi Black Shadow, hanya
keluarga Smith yang memutuskan untuk tetap tinggal disekitar hutan Patenvilles untuk
berjaga-jaga jika Black Shadow kembali. Kini beberapa tahun telah berlalu sejak
kejadian waktu itu tapi Gray Shadow masih belum mendapatkan kabar tentang Black
Shadow, Gray Shadow mulai berpikir bahwa mereka tidak akan kembali, tapi dugaan
itu salah karena Black Shadow sudah kembali dengan lebih banyak werewolf.
Black Shadow sebenarnya bukanlah
predator yang haus akan mangsa, mereka bisa saja tidak menyerang manusia hanya
saja mereka tidak bisa menahan emosinya ketika mereka marah atau ketika mencium
daging manusia yang segar seperti bekas luka yang masih baru. Ada hal lain yang
membuat mereka mempertahankan keyakinan mereka bahwa Werewolf harus tetap menyerang
manusia, apa yang mereka yakini adalah adanya sebuah ramalan yang mengatakan
bahwa akan ada Werewolf yang akan menjadi manusia lagi dan membuat Werewolf lain
menjadi manusia juga. Mungkin ramalan itu disambut baik oleh Gray Shadow tapi
tidak untuk Black Shadow karena mereka menyukai keadaan mereka yang seperti
ini. Selain karena hidup abadi, Black Shadow juga sangat menyukai keadaan
dimana mereka memakan daging manusia atau menularkan virus Werewolf, karena hal
itu sama seperti ketika manusia menghisap ganja dan membuat mereka seakan-akan
mabuk.
Persamaan yang ada pada Gray Shadow
dengan Black Shadow adalah emosi yang sama-sama tidak bisa ditahan sama sekali ketika
marah, walaupun emosi yang terjadi diantara mereka sangat berbeda tapi emosi
tersebut membuat kekuatan mereka bisa meningkat pesat. Jika emosi yang terjadi
pada Black Shadow adalah amarah yang sama sekali tidak terkendali bahkan bisa
saja membunuh apa yang dilihatnya, emosi yang terjadi pada Gray Shadow adalah
amarah yang terjadi sesaat dan tidak se-brutal emosi Black Shadow.
##
BAB 2
PERTEMUAN TAKDIR
B
|
Egitu
kelas terakhir bubar, aku pergi ke halaman depan seraya menunggu jemputan-ku
datang. Ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa aku diikuti. Ketika aku melihat
kebelakang, aku melihat sesosok pria yang tadi melihat-ku aneh di dalam kelas.
Pria itu melihat-ku dengan tatapan tajam seakan ingin menerkam-ku dari
belakang. Ingin sekali aku menegurnya agar tidak melihatku dengan pandangan
seperti itu pada-ku. Namun, rasa takut-ku untuk melihatnya lebih besar daripada
keberanian-ku untuk menegurnya.
Aku mengambil langkah kembali untuk
memastikan apakah pria itu mengikuti-ku. Hasilnya adalah pria itu benar-benar
mengikuti aku. Setiap aku mengambil langkah pertama, pria itu juga mengambil
langkah pertama-nya dan ketika aku berhenti, dia juga berhenti. Hal ini aku
lakukan berulang-ulang untuk memastikan. Kepala-ku berbalik lagi melihat
diri-nya, pandangan yang aku lihat adalah seakan-akan dia menantang-ku untuk
melakukan langkah lagi.
Berulang-ulang langkah telah aku
lakukan agar pria itu merasa bahwa aku sudah tahu kalau dia mengikuti aku.
Tetapi dia seakan-akan biasa saja terhadap apa yang aku lakukan. Tentu saja aku
yang menjadi canggung. Aku berlari sekencang mungkin dan berusaha untuk tidak
diikuti. Sungguh aneh ketika aku berhenti dan melihat kebelakang, ternyata dia
sudah tidak ada. Aku tadi yakin sekali kalau pria itu juga berlari mengejar-ku,
bahkan ketika aku berhenti pun aku masih mendengar langkah terakhir pria itu
yang menandakan dia juga ikut berhenti. Tapi pria itu tiba-tiba menghilang.
Pandangan-ku tadi yang melihat ke arah
belakang, langsung teralihkan oleh suara klakson dari mobil ayah-ku. Terlihat
sesosok pria yang lebih muda beberapa tahun dari ayah yang belum aku kenal
duduk di samping ayah-ku di kursi mobil bagian depan. Ayah melambaikan tangan
kepada-ku dan pria yang duduk di samping ayah tersenyum kepada-ku.
Bergegas aku berlari menuju mobil dan
duduk di kursi mobil bagian belakang. Akhirnya kuliah hari ini selesai.
“Bagaimana kuliah-mu hari ini
putri-ku?” Spontan ayah melihat-ku dan bertanya sebelum menjalan-kan mobil.
“Baik ayah,, siapa pria disamping ayah?” Jawaban-ku dalam bahasa Indonesia
karena aku tidak ingin pria yang bersama ayah mengerti apa yang aku katakana.
“O…
dia! Nama-nya Mr. Smith. Dia adalah polisi hutan yang bertugas di Patenvilles.
Tadi kami bertemu ketika ayah dan Mr. Logan mengunjungi kantor polisi pusat dan
mengabarkan bahwa kita berada di desa Patenvilles. Kemudian ayah menawarkan
kepada-nya untuk ke hutan bersama.” Sahut ayah-ku yang mulai menjalan-kan
mobil.
Sepertinya harapan-ku agar Mr. Smith
tidak mengetahui pembicaraanku dengan ayah-ku sirna. Ketika aku berhenti
berbicara, Mr. Smith dan ayah-ku langsung berbisik dan kemudia tertawa. Aku
tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi aku tahu apa yang mereka bicarakan.
Sekarang rasa malu terhadap Mr. Smith yang tersisa di dalam diri-ku saat ini.
Ayah-ku mengantar-kan Mr. Smith sampai
tepat depan rumah-nya. Aku baru melihat ada sebuah rumah di jalan menuju hutan
ini, tapi kenapa aku kemarin tidak melihat-nya. Ketika Mr. Smith turun dari
mobil dan mengucap-kan rasa terima kasih, aku melihat ke-arah rumah. Ada
sesosok remaja yang baru saja masuk ke dalam rumah. Aneh sekali karena remaja
itu seperti-nya pernah aku lihat, tapi aku tidak bisa melihat wajah-nya karena
sosok itu membelakangi-ku.
Se-sampai-nya di rumah, terlihat
sebuah mobil yang ter-parkir di depan rumah. Ketika berhenti dan turun dari
mobil, saya bergegas lari menuju arah mobil berwarna merah itu.
“Wow
ayah,,,, apa ini mobil yang ayah janji-kan kepada ku?” Pertanyaan-ku dalam
bahasa Indonesia. Rasa kagum-ku terlihat ketika aku menyentuh mobil tersebut,
seakan aku sedang menyentuh kain sutra yang sangat lembut dan didambakan setiap
gadis.
“Bagaimana,
apakah kau suka?” Jawaban yang memperjelas bahwa mobil merah itu
benar-benar milik-ku.
“So…. Good.” Senyum manja-ku
menyenang-kan hati ayah-ku. Kini aku tidak perlu diantar ayah untuk pergi
kuliah. Aku akan merawat mobil ini dengan baik.
Ke-esok-an hari-nya aku berangkat ke
kampus-ku. Ada hal yang membuat-ku merasa sangat gerah adalah ketika aku masuk
kelas dan dua buah mata menatap-ku tajam, dari awal sampai berakhir-nya
mata-kuliah. Hal yang sama seperti hari kemarin terjadi lagi. Pria yang
mengikuti-ku kemarin, kembali mengkuti aku.
Jika seandainya kita dikuti orang yang
belum kita kenal, maka rasa takut dan rasa gerah akan melanda kita. Perasaan
itu yang tengah aku rasakan. Tapi aku tidak berani bertanya ataupun marah
kepada-nya. Aku takut sekali, dia seperti ingin melakukan sesuatu kepadaku.
Kenapa harus aku yang diikuti, apa dia orang gila yang mempunyai obsesi, aku
takut sekali. Rasanya aku ingin keluar dari per-kuliah-an ini, tapi aku sadar,
aku tidak boleh menyerah karena orang ini.
Pada akhirnya, ada suatu kejadian
ketika aku dalam keadaan menstruasi, emosi-ku memuncak. Ketika dia datang dan
mengikuti-ku lagi, aku mulai merasa marah. Di suatu restoran, aku sedang makan
dengan teman-teman baru-ku disini. Seperti biasa aku masih diikuti. Teman-teman
aku mulai merasa terganggu dan menyuruh-ku untuk mengambil tindakan agar dia
tidak mengikuti aku lagi.
Akhirnya aku mengambil gelas yang berisi
minuman di depan aku. Ku berjalan ke arah pria itu yang akhirnya aku tahu
nama-nya, Tylor. Dengan rasa amarah aku menumpah-kan minuman-ku ke wajah-nya
dan mengucapkan kata-kata yang buruk di-ucap-kan di Negara asal-ku.
“apa kau gila. Kenapa kau mengikuti
aku. Jika kau ingin mengincar gadis-gadis seks yang bisa kau rayu, maaf bukan
aku orang-nya. Dasar kau pengutip.” Kata-ku dengan nada marah dan sangat kasar
untuk didengar. Semua orang memandang ke arah-ku, sedangkan tylor masih dengan
tatapan yang sama terhadap-ku. Rasa malu mulai menghantui-ku saat itu dan
akhir-nya ku di tarik teman-teman-ku untuk pergi dari tempat itu.
Hari berikut-nya aku pergi ke kampus.
Dalam pikiran-ku, semoga saja Tylor tidak me-ngutip aku lagi. Jika memang masih
terjadi hal seperti itu, mungkin aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari
kemarin. Sebenarnya kemarin aku sudah merasa kasihan kepada-nya, bagaimanapun
tindakan yang aku lakukan kemarin adalah tidak benar. Kini perasaan lega an
bersalah bercampur menjadi satu.
Aku masuk ke dalam kelas seperti
biasa. Berjalan santai sambil melirik ke arah bangku yang biasa di tempati
Tylor di samping pintu. Tapi kali ini bangku itu kosong dan tak berpenghuni.
Bahkan ketika waktu mata kuliah sudah mulai habis, bangku itu masih kosong. Dia hilang entah
kemana. Aku bertanya pada teman yang duduk di sampingku tentang Tylor, tapi dia
juga tidak tahu alasan ketidak berangkatan Tylor.
Ha…h, ini membuat aku merasa sangat
bersalah dan berpikir bahwa tindakan-ku sangat keterlaluan. Mungkin saja dia
tidak berangkat karena sedang sakit, atau mungkin merasa malu terhadap diriku
dan merasa sudah tidak punya muka dihadapan teman-temannya karena perbuatanku
kemarin. Tetapi sejauh pengetahuan-ku Tylor sama sekali tidak ber-sosialisasi
dengan orang-orang yang ada di kampus ini. Dia hanya bergaul dengan seorang
laki-laki dan seorang perempuan yang kabarnya adalah kakak laki-laki dan adik
perempuan Tylor yang sama-sama kuliah disini.
Kakak laki-laki Tylor sebenarnya
adalah kakak senior dalam hal semester. Sedangkan adik perempuan Tylor, tingkat
semesternya sama dengan Tylor tapi berbeda jurusan mata kuliah dengn Tylor.
Mereka selalu bertemu ketika jam istirahat, dan yang mereka lakukan adalah
seperti Tylor, melihat-ku. Entah kenapa aku lebih terganggu pada Tylor daripada
kedua saudaranya. Tapi itu mungkin mata Tylor yang lebih tajam ke arah-ku tanpa
berpaling, dibandingkan kedua saudaranya yang kadang memalingkan wajah setelah
melihat-ku.
Hari ini ternyata mereka semua tidak
hadir di kampus. Mereka seperti merasa terhina dengan ucapan-ku kemarin. Uh…………
kenapa sekarang aku yang jadi merasa bersalah…. Bukankah harusnya aku merasa
senang jika mereka tidak berangkat. Tapi ketidak berangkat-an mereka membuat-ku
semakin merasa bersalah.
Dua hari berikut-nya mereka masih
tidak berangkat. Ada yang bilang kalau mereka sudah keluar dari kampus ini. Ada
juga yang bilang bahwa mereka sedang mengalami sebuah kecelakaan dan harus
dirawat di rumah sakit. Selain itu, ada juga yang bilang bahwa mereka merasa
tersinggung oleh-ku, karena sebelumnya tidak ada orang yang mau berurusan
dengan makhluk berwajah dingin seperti mereka.
Pada hari
berikutnya kakak laki-laki dan adik perempuan tylor sudah berangkat ke kampus
seperti biasa. Tapi Tylor masih belum menampak-kan batang hidungnya. Tylor
masih saja tidak terlihat oleh-ku dan teman-teman-ku.
Berbicara
tentang kedua saudara Tylor. Mereka hari ini tampak sangat berbeda. Mereka
terlihat seperti dua orang yang telah ber-pergi-an jauh. Mata lelah masih
tampak di mata mereka. Hal itu terlihat ketika adik perempuan Tylor melihat-ku
sambil tersenyum manis ketika aku melihat-nya.
Tiga hari
kemudian. Hari ini aku berangkat ke kampus diantar oleh Mr. Logan yang
kebetulan datang kerumah-ku pagi-pagi sekali. Kebetulan juga mobil-ku hari ini
sedang mogok dan akan diperbaiki ayah-ku nanti. Jadi, dari pada diantar
ayah-ku, lebih baik aku menumpang mobil Mr. Logan karena mobil-nya lebih bagus.
Mobil Mr.
Logan berhenti ketika sampai di pertiga-an jalan di timur kampus-ku, sekitar
100 meter. Mr. Logan tidak harus mengantar-kan aku sampai ke kampus dan aku
juga tidak ingin merepotkan beliau. Jadi, aku memintanya untuk menurun-kan aku
disini. Lagi pula, jalan kaki lebih terasa sehat.
Entah
kenapa kali ini pikiran-ku tidak menggunakan konsentrasi. Au berjalan seperti
mayat hidup dan tidak memperhatikan sekeliling-ku. Aku hanya melihat jam yang
ada dalam handphone-ku. Karena terlalu melamun melihat handphone-ku, tidak
terasa aku telah berjalan di tengah jalan. Tiba-tiba terdengar suara klakson bus
di depan-ku. Aku terkejut setengah mati, tubuh-ku seakan tidak bisa digerakan.
Bahkan ketika aku melihat bus tersebut sudah berada satu meter di depan-ku
karena kecepatan yang digunakan sang supir bus.
Waktu
seakan terasa terhenti selama lima detik. Tiba-tiba aku sadar, aku sudah berada
di pinggir jalan. Aku merasa seperti ada yang memeluk-ku saat itu. Benar saja,
aku ternyata di selamat-kan oleh Tylor. Perasaan yang muncul saat itu adalah
hangat, seakan aku merasa terlindungi dari sesuatu yang bisa membunuh-ku.
Sangat terharu.
Dalam
penyelamatan itu, Tylor mengalami luka lecet yang besar pada lengan kanan-nya.
“Thank,,,
t,, tha,, thank you.” Ucapan terima kasih yang ku ucapkan dengan terbata-bata. Tylor
hanya tersenyum kepada aku dan langsung berdiri sambil menggendong aku menuju
ke dalam kampus. Saat itu aku masih belum bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya
melihat wajah-nya yang terlihat seperti berkilau. Sangat mempesona.
#
(tunggu cerita berikutnya ya.....................)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar