Senin, 23 April 2012

Dark Moon "The world of difference"


BAB 1
PATENVILLES

A
Ku menatap kearah luar dan memperlihatkan kebosananku kepada dunia luar. Namaku Maria Kumer, sebuah nama yang aneh dan asing untuk gadis lugu berumur 19 tahun, dengan warna kulit sawo matang dan berwajah oriental Indonesia yang akan hidup di Amerika. Di Indonesia aku sering dipanggil dengan sebutan Mary oleh teman-temanku, ya… walaupun aku berwajah oriental tapi aku mempunyai penampilan yang menarik terutama pada penampilan rambutku. Tapi di dalam penampilanku yang sempurna. sebenarnya banyak rahasia yang aku pendam dan harus ku rahasiakan kepada orang lain tapi mungkin aku akan membuka rahasia itu nanti.
Aku pergi dan berpindah ke Amerika karena mengikuti ayahku yang diminta kliennya untuk pindah ke Amerika. Ayahku yang bernama Budiman sebenarnya adalah seorang dukun yang terkenal di Indonesia, beliau mendapatkan tawaran dari salah satu kliennya yang aku panggil dengan sebutan tuan Logan untuk berpindah ke sudut Amerika agar mereka mudah untuk terhubung. Pada awalnya ayahku menolaknya tetapi ketika ibuku meninggal tawaran itupun diterima agar dia bisa melupakan kenangan yang sangat berharga semasa ibuku hidup. Tapi tetap saja bagiku kenangan itu bukanlah sesuatu yang perlu dilupakan, dan aku tidak menyukai perpindahan ini.
          Dalam perjalanan ini aku merasa sangat bosan karena sejauh mata memandang yang aku lihat hanya pohon-pohon tua yang sepi tanpa terdengar suara hewan sama sekali. Sungguh tempat yang sangat indah dan sesuai dengan apa yang aku sukai yaitu kesunyian, tapi entah mengapa aku merasa ada yag aneh dengan tempat ini, menurutku Amerika adalah Negara yang sangat besar tapi kenapa masih ada tempat yang sesunyi ini dan bahkan sangat sunyi. Sesaat ketika aku memandang kearah luar jendela mobil ku aku melihat sekilas bayangan yang berlari sangat cepat dan seakan-akan mengintai kami.
          “Apa kau melihat itu, yah.” Kataku dalam bahasa indonesia sambil memegang erat tangan ayahku.
          “Apa! Em.. mungkin itu hanya hewan atau kau hanya sedang berhalusinasi saja karena berada di tempat yang asing.” Jawab ayahku dengan wajah serius dan mencoba berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil tua ini. Mungkin benar jika aku berhalusinasi, cukup dimengerti jika seseorang mudah berhalusinasi di tempat yang sangat sepi ini.
          Dari perjalanan yang sangat jauh dan membosankan ini, akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah tua yang bertembok-kan kayu yang berada di tengah hutan yang luas. Tempat ini sangat merupakan tempat yang sangat terpencil disbanding dengan desa-desa lain di luar sana, tapi kelebihan dari tempat ini adalah suasana yang sangat sejuk dan masih terdengar suara kicauan burung, dan aku harap aku tidak akan bertemu hewan buas disini. Di dalam hatiku sebenarnya terdapat banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada ayahku saat ini, pertanyaan yang timbul dari perasaan aneh yang datang ketika kami memasuki perbatasan hutan, tapi mungkin tidak akan aku tanyakan untuk saat ini.
          Akhirnya rasa lelah ku akibat duduk berlama-lama di mobil tua ini selesai. Aku turun dari mobil ini dengan perasaan senang tapi juga sedih karena akhirnya perpisahan-ku dengan tempat asalku benar-benar terjadi, tapi aku harus menerima keputusan ayahku saat ini dan menerima halaman baru di hidupku ini. Aku mulai menyamakan tempat ini dengan tempatku dulu. Aku tidak bermaksud untuk membandingkan kelebihan dan kekurangannya, tapi aku hanya terheran-heran saja dengan kondisi yang sangat berbeda dari tempatku dulu.
          “Tempat apa ini, banyak rumah yang berjejer di sekitar rumah ini, tapi aku sama sekali tidak merasakan kehadiran manusia.” Tanyaku sambil perlahan mendekati ayahku yang sedang menyalakan api untuk rokoknya.
          “Bagus bukan, bukankah kita menyukai tempat yang sejuk dan tenang seperti tempat yang dinamakan desa Patenvilles ini.” Sahut ayahku yang terus menghisap cerutunya. Sebenarnya aku mendengar pembicaraan antara ayahku dengan tuan logan waktu itu. Waktu itu tuan logan menawarkan sebuah tempat di samping apartemennya, akan tetapi ayahku menginginkan tempat yang jauh dari keramaian dan mempunyai sejarah magis sehingga ditawarkan-lah tempat ini oleh tuan logan. Tuan Logan mengatakan bahwa Patenvilles mempunyai sejarah magis yang sangat misterius, waktu itu tuan logan menceritakan bahwa Patenvilles dulunya adalah sebuah desa ditengah hutan yang berpenduduk, akan tetapi semua penduduk yang tinggal di Patenvilles menghilang entah kemana.
          Tinggal di Patenvilles merupakan tantangan bagi ayahku. Tidak ada rasa takut sama sekali di raut wajahnya, hanya raut wajah serius yang selalu diperlihatkan-nya kepada orang lain. Patenvilles adalah tempat yang bagus untuk perkembangan karir ayahku, sehingga ayahku akhirnya memilih tempat ini. Sedangkan menurutku Patenvilles adalah tempat yang cocok untukku, tapi mungkin aku harus lebih membiasakan hidup di tempat baru ini. Ada hal yang mulai aku sukai di tempat ini, mulai dari suasana rindangnya, sunyi-nya, dan suasana yang masih alami di tempat ini, dan aku harap disini ada sebuah taman bunga. Rahasia yang terjadi di tempat ini bagiku adalah sebuah nilai lebih yang ada di tempat ini.
          Dalam diamku ada sebuah bisikan halus selalu mendera-ku seakan-akan ingin menyampaikan suatu rahasia kepadaku. Come on, come on, kata-kata itu terus terngiang di telingaku, betapa membuatku merasa terganggu tapi tidak pernah ku hiraukan sama sekali. Berkali-kali aku meyakinkan diri untuk bersikap netral seperti yang telah aku lakukan sebelumnya, tetapi perasaan seperti diintai terus saja menggangguku hingga terdengar suara klakson mobil dan membuatku terkejut. Nampak seorang pria berjas putih yang bertubuh besar dan berkepala botak turun dari mobil sambil memegangi tongkat berwarna coklat keemasan, dialah tuan Logan yang pernah aku bicarakan tadi.
          “Hai tuan Budiman, apa kabarmu hari ini? Senang rasanya bisa melihatmu di Negeri ini… Bagaimana, apa kau suka tinggal disini?” Sambut tuan Logan dengan bahasa inggris yang fasih dan senyum yang sangat lebar sehingga aku bisa memasukan tiga jariku di dalamnya. Ayahku tidak mejawab pertanyaan yang diberikan oleh tuan Logan dan hanya sedikit memandangi tuan Logan yang terlihat senang, itulah sifat ayahku.
          “Emm.. bagaimana jika kita membicarakan tentang kelanjutan bisnis saya dan perjalanan anda di dalam rumah saja” Kata tuan Logan yang mulai berkeringat dan memegang pundak ayahku seraya berjalan menuju dalam rumah. Aku berjalan menuju kearah mobil untuk mengambil tas dan plastik tempat makanan yang terletak di kursi belakang mobil. Ketika aku menutup pintu mobil suara bisikan itu terdengar lagi, dan betapa terkejutnya aku ketika sekilas terlihat sesosok bayangan manusia yang mengintip di balik pepohonan hutan depan rumah. Hal itu memang tidak membuatku takut walau aku sedikit terkejut, tapi bayangan itu terus ada di pikiranku bahkan sewaktu aku membuka pintu rumah.
          Ketika aku memasuki rumah tua ini ayah masih mendengarkan kata-kata tuan Logan di atas kursi yang masih terbungkus kain putih. Aku berjalan menyusuri sudut di rumah yang sudah tua, ada banyak benda milik ayahku yang sudah terlebih dahulu sampai dan tertata rapi walau masih terbungkus kain putih. Aku berjalan-jalan dan melihat-lihat isi dan bentuk dalam rumah yang masih terdapat lukisan tentang penduduk yang aku perkirakan adalah penduduk Patenvilles, selain lukisan juga terdapat tanda bekas tempat bingkai foto di tembok yang mungkin dulu adalah tempat untuk gambar keluarga bagi penghuni rumah sebelumnya. Melihat keadaan rumah tua ini membuatku sempat berpikir tentang penghuni sebelumnya beserta penduduk Patenvilles yang menghilang seperti yang dikatakan tuan Logan. Fantasiku yang seperti anak umur tiga belas tahun mengatakan bahwa mereka tidak menghilang, hanya saja terjadi sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh warga di luar hutan.
          Kini mataku terarah pada tangga yang ada di depanku, dan tanpa ragu aku menaiki anak tangga satu demi satu. Mataku tertuju pada satu ruang kamar yang berada di ujung ketika aku telah tiba di lantai dua. Perlahan aku membuka pintu tersebut, suara krek terdengar ketika pintu terbuka, terlihat sebuah ruang kamar yang mempunyai jendela yang berukuran sedang dan mengarah langsung ke hutan depan rumah. Aku langsung saja membuang tasku ke kursi yang penuh debu dan langsung membuka jendela agar angin sepoi-sepoi bisa membantuku mengusir debu-debu yang menempel di setiap perabotan kamar. Kini aku harus membereskan kamar ini dan mengambil foto seorang wanita yang aku panggil ibu yang ada di dalam tasku.
          Tidak lama setelah aku menyelesaikan kegiatanku terdengar suara mobil yang sedang dinyalakan dan beranjak pergi, dan bersamaan dengan menghilangnya suara mobil yang terdengar tadi terdengar juga suara yang tidak asing di telingaku yang mulai memanggilku. Serentak aku langsung keluar kamar dan berjalan menghampiri sumber suara yang terdengar di lantai bawah. Sepertinya aku tahu apa yang diinginkan ayahku. Tanpa bertanya lagi aku mengambil plastik yang berisi banyak makanan kaleng yang tadi aku taruh di meja dekat pintu dan pergi ke salah satu ruang yang terlihat seperti dapur. Kebiasaan ayahku yang selanjutnya adalah selalu merasa lapar di setiap habis melayani klien yang datang untuk berkonsultasi, tapi sekarang aku tidak perlu khawatir lagi karena ayahku sekarang hanya melayani satu orang saja sehingga aku tidak perlu sesering lagi menyiapkan makanan.
          “Haruskah kita memakan makanan kaleng di hari pertama?” kata ayahku dalam bahasa Indonesia yang datang dari ruang tamu menuju ruang makan.
          “Kita tidak akan sempat untuk memasak makanan untuk hari pertama kan! Sepertinya ayah tidak perlu terlihat dingin lagi, klien ayah kan sudah pergi.” Jawabku sambil berbalik melihat ayahku dengan sedikit gurauan. Ayahku sebenarnya mempunyai sifat yang ramah, apalagi terhadap keluarganya, beliau hanya akan bersifat dingin terhadap orang lain termasuk kliennya agar wibawa beliau tetap terjaga di depan orang lain.
          “sepertinya tidak ada lagi yang perlu ayah tutupi lagi, ayah tidak bisa berpura-pura dingin dihadapan anak ayah yang paling cantik.” Sahut ayahku sambil tertawa kecil.
          “ayah…. Sepertinya ayah tidak perlu memanjakanku seperti anak kecil lagi, aku kan sudah dewasa.” Sahutku sambil memberikan makanan yang sudah ku sediakan di piring. Ayahku hanya tertawa dan memandangku sejenak. Aku bisa membaca apa yang dipikirkan oleh ayahku, itu hal yang membuatku sedih tapi juga bersyukur karena bisa menjadi anaknya. Tubuh ini memang adalah anak kandungnya tapi jiwa ini adalah orang lain, memang benar jika dikatakan bahwa jiwaku bukanlah jiwa dari tubuh ini, karena tubuh ini hanyalah tubuh dari gadis yang sudah meninggal karena kecelakaan yang digerakkan lagi oleh sebuah jiwa yang pernah tersesat di dunia.
          Setelah pembicaraanku dengan ayah aku beranjak ke lantai dua untuk membersihkan ruanganku dan juga mempersiapkan hal-hal yang mungkin aku perlukan untuk keperluan kuliahku besok. Berbicara tentang kuliah, ada banyak hal yang mulai menggerayangi pikiranku, apakah keadaan di sini sama dengan keadaan di tempatku semula atau sangat berbeda drastis. Banyak yang aku khayalkan tentang kejadian besok sehingga aku terlupa bahwa malam ini sudah sangat larut dan aku memutuskan untuk cepat-cepat tidur.
          Keesokan harinya aku terbangun dari tempat tidurku pagi-pagi sekali. Setelah aku membersihkan kamar aku bergegas turun dari lantai atas menuju lantai bawah untuk membersihkan rumah, menata ruangan yang kemarin belum aku tata, dan untuk mempersiapkan makanan untuk dua orang. Pagi ini adalah pagi yang sangat indah di sebuah desa yang berada di tengah hutan Patenvilles. Tidak terbayangkan keindahan di tempat ini manjadi sangat aneh karena mempunyai banyak rumah di dalam hutan tapi sama sekali tidak ditempati oleh manusia, padahal di tempat yang seperti ini seharusnya menjadi surga bagi para manusia.
          Hari ini adalah hari pertamaku di kampus yang baru, sebaiknya aku harus siap mental dengan keadaan yang berbeda dengan keadaan yang selalu aku alami. Kali ini ayah mengantarku sampai ke depan kampus baruku, hal yang pertama kali dilakukannya selama aku bersamanya. Tapi mungkin ini akan menjadi yang pertama dan terakhir dia mengantarku karena dia berjanji akan mengambil mobil baru untukku, hadiah dari tuan Logan untuk ayahku karena bersedia tinggal di Negara paman Sam ini.
          Perlahan-lahan aku berjalan menuju ke dalam gedung kampus dan memasuki gudang ilmu yang akan menuntunku menuju masa depan. Untuk hari ini aku harus berjuang menyesuaikan diri dengan keramaian yang berbeda sekaligus aku harus menyelesaikan administrasi-ku disini sebagai mahasiswi yang baru. Aku mengambil jurusan yang sama ketika aku masih di Indonesia, yaitu Ekonomi. Aku pikir aku akan melanjutkan semester yang sudah aku tempuh, akan tetapi disini aku harus mengulang dari semester awal, mungkin itu karena aku memang kurang terlalu pintar bahkan banyak orang yang bilang kepadaku bahwa aku adalah orang yang polos.
          Setelah aku menyelesaikan administrasi aku diizinkan untuk langsung mengikuti mata kuliah untuk hari ini. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong dan mencari kelas untuk mata kuliah yang pertama. Aku langsung memasuki kelas yang aku cari setelah aku menemukannya, hal yang kurasakan adalah terpaku dan diam tanpa kata ketika aku memasuki kelas yang sudah dimulai. Semua orang menatapku ketika dosen yang sedang mengajar langsung menanyakan tujuanku masuk ke kelas ini serta identitasku, dan ketika aku berkata aku tinggal di Patenvilles semua orang yang berada di dalam kelas langsung saling bergumam termasuk dosen yang menanyaiku juga langsung mundur satu langkah. Semua hal yang tidak aku ketahui dan mereka ketahui membuat aku semakin penasaran karena semua orang merasa terkejut ketika aku mengatakan kata Patenvilles.
#
          Di sisi lain seorang pemuda penghuni Patenvilles yang mencium keberadaan manusia di dalam hutan, dia bernama Tylor. Tylor adalah sesosok manusia serigala atau biasa yang disebut dengan Werewolf. Pemuda ini memiliki ciri berbadan tegap dan berkulit coklat yang dalam bayanganku dia seperti sosok Tylor Lautner pemeran Jacob dalam film twilight.
          “Aku mencium bau manusia.” Gumamnya. Secara cepat pemuda itu berubah menjadi seekor serigala besar berbulu coklat dan mencari sumber bau tersebut. Dengan berhati-hati Tylor mencari bau manusia yang dicium oleh Tylor, bau itu tercium sangat tajam, mungkin saja bau itu tidak jauh dari Patenvilles atau bahkan ada di dalam hutan Patenvilles. Sejauh dia berlari dan mencari sumber bau tersebut akhirnya Tylor menemukan dua sosok manusia yang sedang mengendarai mobil berwarna hijau tua yang sedang melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tengah hutan, tempat dimana desa Patenvilles berada.
          Dengan sangat hati-hati dan bersembunyi Tylor mengikuti mobil tersebut dari arah samping. Tylor sangat penasaran dengan kedua manusia tersebut karena sudah lama tidak ada manusia yang datang ke hutan Patenvilles setelah kejadian 150 tahun yang lalu. Dulu Patenvilles adalah sebuah desa ditengah hutan yang mempunyai 250 penduduk, akan tetapi desa tersebut menjadi sangat ditakuti oleh manusia setelah menghilangnya penduduk setempat. Sebenarnya penduduk Patenvilles tidak benar-benar menghilang, akan tetapi mereka sebenarnya sudah meninggal karena dimangsa oleh Werewolf. Tentu saja setelah kejadian tersebut semua penduduk yang ada di desa Patenvilles berubah menjadi Werewolf, mulai dari anak-anak sampai orang tua dan mereka semua mulai menyebar ke bagian hutan terdalam setelah kejadian tersebut. setelah kejadian tersebut tidak ada orang yang mengetahui penyebab pasti menghilangnya penduduk Patenvilles, banyak orang yang mengira penduduk Patenvillesmenghilang karena dimangsa oleh gerombolan hewan liar yang ada di dalam hutan dan ada pula yang mengira mereka menghilang karena kutukan, akan tetapi perkiraan tersebut tidak bisa diterima karena tidak adanya bukti. Pada saat itu pemerintah kota sudah melakukan penyelidikan atas kabar yang beredar di Patenvilles, akan tetapi tidak ada yang bisa dipecahkan karena semua penyelidik yang memasuki hutan Patenvilles tidak pernah kembali lagi seperti menghilang ditelan bumi membuat misteri tetap menjadi misteri.
          Banyak hal yang membuat Tylor merasa harus mengikuti mobil tersebut, mulai dari keberadaan manusia yang baru datang ke tempat ini juga karena mungkin kedatangan manusia ini menjadi tanda akan kembalinya aktivitas manusia di hutan Patenvilles ini. Sebenarnya Tylor merasa ada yang aneh pada dua manusia yang dia lihat karena bau manusia yang dia cium hanya satu orang, sedangkan sosok manusia yang lainnya mengeluarkan bau yang hampir sama dengan manusia tetapi mempunyai perbedaan yang tidak bisa dijelaskan. Tylor terus mengejar mobil tersebut, entah kenapa dia merasakan sesuatu hal yang besar akan terjadi karena kedatangan mereka. Sesekali Tylor berhenti mengejar dan bersembunyi ketika seorang gadis yang ada di dalam mobil tersebut mulai merasa curiga dan melihat ke arah luar jendela.
          Mobil itu berhenti ketika sampai di sebuah rumah di pinggir desa Patenvilles. Tylor terus mengintai mereka dari kejauhan dengan wujud serigalanya, dan saat itu Tylor juga mencium bau manusia lain yang datang dari arah yang sama dengan mobil hijau itu dan berhenti di tempat yang sama dengan mobil tersebut. Arah mata Tylor terus mengintai pada tiga sosok manusia yang saling berbincang di luar rumah, tapi mata Tylor lebih tertarik untuk melihat sosok gadis berambut hitam panjang yang berada di samping mobil. Tylor merasakan bahwa bau manusia yang terasa berbeda itu berasal dari gadis tersebut sehingga matanya lebih banyak tertuju kepada gadis tersebut. Tylor sangat ingin menghampiri orang-orang tersebut, akan tetapi Tylor tidak mempunyai keberanian untuk mendekat, bahkan ketika gadis itu berada di luar rumah sendirian setelah dua orang lain masuk ke dalam rumah. Ada sebuah perasaan yang memaksakan Tylor untuk mendekat ketika gadis tersebut sendirian, tapi pada saat langkah pertama Tylor, gadis tersebut seakan merasakan keberadaannya sehingga Tylor lari dan menghilang di balik semak-semak.
          Tylor berlari kencang menuju sebuah rumah sederhana yang berada di pinggir hutan. Dia mulai berjalan kearah rumah tersebut ketika mendekati rumah tersebut, disana Tylor sudah ditunggu oleh kedua orang tua Tylor, tuan dan nyonya Smith, dan ketiga saudaranya, Clark-Shyne-sofy. Tuan Smith adalah seorang kepala polisi dan nyonya Smith adalah seorang Dokter, mereka menjalani pekerjaan tersebut tidak lain untuk melindungi manusia dan menutupi semua keanehan yang dibuat oleh Werewolf lain. Clark adalah kakak laki-laki pertama Tylor yang juga menjadi polisi untuk membantu tuan Smith. Shyne adalah kakak laki-laki kedua Tylor yang masih kuliah di kampus yang sama dengan Tylor, Shyne adalah salah satu Werewolf yang unik dikeluarganya yaitu jika dia berubah menjadi serigala maka bulunya akan berwarna cokelat dengan sedikit warna putih yang berkilau, akan tetapi Shyne mempunyai sifat yang pemarah yang membuatnya lebih kuat diantara keluarganya. Sedangkan Sofy adalah adik perempuan Tylor yang mempunyai rambut yang pendek dan berwarna hitam. Walaupun mereka adalah Werewolf tapi mereka masih mempunyai sifat manusia mereka dan tidak memangsa manusia seperti Werewolf lain.
          Perlahan Tylor mendekati kedua orang tuanya dan saudaranya. Ada beberapa yang ingin dia katakan tetapi informasi yang dia dapatkan masih terlalu dini untuk diungkapkan.
          “Apa sesuatu hal yang perlu kita waspadai dari kedatangan manusia itu?” Tanya sofy kepada Tylor.
          “Aku masih belum tahu. Tapi ada beberapa hal yang membuatku penasaran, yaitu salah satu manusia yang datang ke Patenvilles mempunyai bau yang berbeda dari manusia kebanyakan.” Jawab Tylor dengan wajah berpikir.
          “Berarti apa yang kita cium tadi bukanlah sesuatu yang salah.” Sahut nyonya Smith.
          “Tylor, terus amati gerak-gerik manusia itu, ayah takut kedatangan mereka diketahui oleh Werewolf lain. Dan kalian, amati daerah sekitar untuk melihat apakah mereka mengetahuinya.” Kata tuan Smith dengan bijaksana. Tanpa sebuah jawaban empat bersaudara itu langsung berpaling dan berubah menjadi serigala yang kemudian berpencar menuju ke hutan.
          Tylor mendapatkan tugas untuk mengintai manusia tersebut dan sepanjang hari Tylor terus mengintai rumah tua tempat manusia itu tinggal. Pandangan yang sangat tajam tidak pernah lepas dari keadaan dalam rumah, memantau, apakah mereka datang dengan baik ataupun mempunyai tujuan yang buruk bagi Patenvilles. Sebenarnya para Werewolf adalah tipe makhluk yang konsisten pada tugas yang dijalaninya terutama dalam hal mengintai, hanya dengan sekejap mata saja mereka dapat melihat pandangan yang sangat jauh yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh mata manusia biasa, bahkan hanya dengan penciuman saja mereka dapat melacak dan mengetahui posisi sesuatu yang sedang mereka intai. Banyak dari mereka yang lebih suka menunggu dan bersembunyi dari lawan mereka, tetapi mereka bukanlah pengecut karena sebenarnya mereka bersembunyi untuk mengetahui kelemahan lawannya.
          Malam mulai menyapa di Patenvilles, tetapi Tylor masih belum mengetahui tujuan dari kedatangan mereka di Patenvilles, hanya lampu dari dalam rumah yang mulai menyala satu per satu sampai cahayanya hilang satu persatu dan meninggalkan satu lampu yang masih menyala di kamar lantai atas. Tylor mulai berharap untuk mempunyai pendengaran yang tajam seperti yang dimiliki seekor kelinci, sungguh penglihatan dan penciumannya tidak terlalu berguna dalam pengintaian kali ini.
          Entah kenapa Tylor merasa bahwa gadis itu seakan mengetahui keberadaannya. Itu memang sebuah pemikiran aneh buatnya, tapi ketika matanya terpusat pada sosok gadis itu seketika itu juga gadis itu mencari posisi keberadaan Tylor. Tylor merasa seperti seekor elang yang sedang mengincar seekor tikus di tanah, dimana tikus itu mengetahui bahwa dia sedang diincar akan tetapi tidak mengetahui posisi pengintai.
            Tylor mulai merasa bahwa kedatangan mereka tidak mempunyai maksud apapun, tapi dia masih harus mengawasi keadaan sekitar rumah itu agar Werewolf lain bahkan musuh mereka tidak datang ke rumah itu dan membuat misteri baru bagi dunia luar. Keluarga Smith sudah cukup lelah untuk menutupi misteri yang terjadi dahulu dan semoga saja tidak akan terjadi kejadian yang s
ama lagi.
#
         Pada hari dan waktu yang sama dengan kedatangan keluarga Budiman, terdengar suara ranting yang saling bergesekan cepat di sisi hutan yang berlawanan. Beberapa hewan disekitar suara tersebut juga mendadak mati dengan lima bekas luka cakar yang terlihat seperti cakaran serigala. Ada suatu yang menakutkan mulai datang ke tempat ini, sesuatu yang pernah terlupakan yang beranjak untuk menghantui manusia lagi. Mereka adalah korban-korban yang menghilang pada kejadian di Patenvilles dahulu yang ternyata telah berubah menjadi Werewolf, keluarga Smith menyebut mereka dengan sebutan Black Shadow.
          Black Shadow sangat membenci keluarga Smith, Black Shadow menganggap bahwa keluarga Smith adalah sekelompok penghianat yang lebih suka membela bangsa manusia daripada kaum mereka sendiri. Seperti yang telah di ceritakan bahwa desa Patenvilles dahulu adalah sebuah desa yang sangat damai, akan tetapi pada suatu malam datang seekor siluman serigala yang memangsa satu keluarga yang akhirnya menjadi Werewolf dan akhirnya menyerang seluruh desa. Didalam peristiwa tersebut hanya satu keluarga yang berhasil bersembunyi dan selamat dengan cara menutupi bau mereka dengan bau buah-buahan busuk yang menyengat, mereka adalah keluarga smith. Keluarga Smith pada saat itu terus bersembunyi, mereka sama sekali tidak berani keluar karena walaupun Werewolf hanya bisa berubah sesuka hati mereka pada malam hari tapi wujud manusia mereka juga sangat kuat. Keluarga Smith terus bersembunyi dengan ketakutan mereka sampai suatu saat keadaan menjadi tenang dan datang sekolompok tim penyelidik yang menyelamatkan mereka, tapi sayang sekali ketika keluarga Smith keluar dari per-sembunyi-an segerombol-an Black Shadow datang dan menyerang mereka sehingga mereka menjadi salah satu dari Black Shadow . Pada awalnya keluarga Smith mempunyai sifat yang sama dengan Black Shadow yang lain yang tidak bisa mengontrol sifat alami dari Werewolf.
          Werewolf dibagi menjadi menjadi dua golongan, Black Shadow dan Gray Shadow. Seperti yang telah dicerita-kan bahwa Black Shadow yang dipimpin oleh lelaki dewasa bernama Morgan adalah werewolf yang sangat membenci kaum manusia, mereka menganggap bahwa manusia adalah makhluk rendahan karena tidak abadi dan mereka sekarang merasa seperti dewa karena abadi, maka dari itu Black Shadow berambisi untuk menjadikan seluruh manusia menjadi Werewolf. Sedangkan Gray Shadow adalah werewolf yang masih mempunyai perasaan seperti manusia dan ingin kembali menjadi manusia. Gray Shadow dahulu adalah bagian dari Black Shadow, mereka mempunyai emosi yang masih brutal dan tidak bisa mengontrol perubahan mereka seperti werewolf lain. Ketika mereka berwujud serigala mereka tidak akan mengenal sifat manusia mereka, sifat kemanusiaan mereka akan tetap ada ketika mereka dalam wujud manusia, dalam wujud tersebut-lah mereka mencoba mencari cara untuk bisa kembali menjadi manusia. Banyak yang mereka lakukan namun tidak ada yang dapat mereka temukan, tapi mereka berhasil menemukan cara mempertahankan sifat kemanusiaan mereka dalam wujud serigala dan mengontrol perubahan mereka baik di siang hari.
          Berita tentang hilangnya orang-orang di hutan Patenvilles sudah menyebar di penjuru kota, sehingga tidak ada orang yang berani untuk mengunjungi hutan Patenvilles. Tidak adanya manusia yang datang ke hutan Patenvilles membuat Black Shadow lain memutuskan untuk menyerang manusia di dunia luar dan tentu saja keputusan itu ditentang oleh Gray Shadow. Pertentangan tersebut menjadikan peperangan yang sangat sengit antara Black Shadow dengan Gray Shadow. Peperangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Gray Shadow yang mempunyai indra dan kemampuan yang lebih hebat daripada Black Shadow, kemampuan yang sangat menakjubkan akibat cara yang mereka tempuh untuk menjadi manusia kembali.
          Pada peperangan yang di-menang-kan oleh Gray Shadow tersebut mmbuat Blak Shadow merasa terpojok sehingga Black Shadow yang dipimpin oleh Morgan memutuskan untuk menghilang. Patenvilles kini kembali tenang lagi tetapi Gray Shadow masih merasa bahwa Black Shadow akan tetap menyerang manusia di dunia luar. Akhirnya Gray Shadow memutuskan untuk membaur dengan manusia dan mencari sekaligus menghalangi Black Shadow, hanya keluarga Smith yang memutuskan untuk tetap tinggal disekitar hutan Patenvilles untuk berjaga-jaga jika Black Shadow kembali. Kini beberapa tahun telah berlalu sejak kejadian waktu itu tapi Gray Shadow masih belum mendapatkan kabar tentang Black Shadow, Gray Shadow mulai berpikir bahwa mereka tidak akan kembali, tapi dugaan itu salah karena Black Shadow sudah kembali dengan lebih banyak werewolf.
          Black Shadow sebenarnya bukanlah predator yang haus akan mangsa, mereka bisa saja tidak menyerang manusia hanya saja mereka tidak bisa menahan emosinya ketika mereka marah atau ketika mencium daging manusia yang segar seperti bekas luka yang masih baru. Ada hal lain yang membuat mereka mempertahankan keyakinan mereka bahwa Werewolf harus tetap menyerang manusia, apa yang mereka yakini adalah adanya sebuah ramalan yang mengatakan bahwa akan ada Werewolf yang akan menjadi manusia lagi dan membuat Werewolf lain menjadi manusia juga. Mungkin ramalan itu disambut baik oleh Gray Shadow tapi tidak untuk Black Shadow karena mereka menyukai keadaan mereka yang seperti ini. Selain karena hidup abadi, Black Shadow juga sangat menyukai keadaan dimana mereka memakan daging manusia atau menularkan virus Werewolf, karena hal itu sama seperti ketika manusia menghisap ganja dan membuat mereka seakan-akan mabuk.
          Persamaan yang ada pada Gray Shadow dengan Black Shadow adalah emosi yang sama-sama tidak bisa ditahan sama sekali ketika marah, walaupun emosi yang terjadi diantara mereka sangat berbeda tapi emosi tersebut membuat kekuatan mereka bisa meningkat pesat. Jika emosi yang terjadi pada Black Shadow adalah amarah yang sama sekali tidak terkendali bahkan bisa saja membunuh apa yang dilihatnya, emosi yang terjadi pada Gray Shadow adalah amarah yang terjadi sesaat dan tidak se-brutal emosi Black Shadow.
##

BAB 2
PERTEMUAN TAKDIR

B
Egitu kelas terakhir bubar, aku pergi ke halaman depan seraya menunggu jemputan-ku datang. Ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa aku diikuti. Ketika aku melihat kebelakang, aku melihat sesosok pria yang tadi melihat-ku aneh di dalam kelas. Pria itu melihat-ku dengan tatapan tajam seakan ingin menerkam-ku dari belakang. Ingin sekali aku menegurnya agar tidak melihatku dengan pandangan seperti itu pada-ku. Namun, rasa takut-ku untuk melihatnya lebih besar daripada keberanian-ku untuk menegurnya.
          Aku mengambil langkah kembali untuk memastikan apakah pria itu mengikuti-ku. Hasilnya adalah pria itu benar-benar mengikuti aku. Setiap aku mengambil langkah pertama, pria itu juga mengambil langkah pertama-nya dan ketika aku berhenti, dia juga berhenti. Hal ini aku lakukan berulang-ulang untuk memastikan. Kepala-ku berbalik lagi melihat diri-nya, pandangan yang aku lihat adalah seakan-akan dia menantang-ku untuk melakukan langkah lagi.
          Berulang-ulang langkah telah aku lakukan agar pria itu merasa bahwa aku sudah tahu kalau dia mengikuti aku. Tetapi dia seakan-akan biasa saja terhadap apa yang aku lakukan. Tentu saja aku yang menjadi canggung. Aku berlari sekencang mungkin dan berusaha untuk tidak diikuti. Sungguh aneh ketika aku berhenti dan melihat kebelakang, ternyata dia sudah tidak ada. Aku tadi yakin sekali kalau pria itu juga berlari mengejar-ku, bahkan ketika aku berhenti pun aku masih mendengar langkah terakhir pria itu yang menandakan dia juga ikut berhenti. Tapi pria itu tiba-tiba menghilang.
          Pandangan-ku tadi yang melihat ke arah belakang, langsung teralihkan oleh suara klakson dari mobil ayah-ku. Terlihat sesosok pria yang lebih muda beberapa tahun dari ayah yang belum aku kenal duduk di samping ayah-ku di kursi mobil bagian depan. Ayah melambaikan tangan kepada-ku dan pria yang duduk di samping ayah tersenyum kepada-ku.
          Bergegas aku berlari menuju mobil dan duduk di kursi mobil bagian belakang. Akhirnya kuliah hari ini selesai.
          “Bagaimana kuliah-mu hari ini putri-ku?” Spontan ayah melihat-ku dan bertanya sebelum menjalan-kan mobil.
          “Baik ayah,, siapa pria disamping ayah?” Jawaban-ku dalam bahasa Indonesia karena aku tidak ingin pria yang bersama ayah mengerti apa yang aku katakana.
          “O… dia! Nama-nya Mr. Smith. Dia adalah polisi hutan yang bertugas di Patenvilles. Tadi kami bertemu ketika ayah dan Mr. Logan mengunjungi kantor polisi pusat dan mengabarkan bahwa kita berada di desa Patenvilles. Kemudian ayah menawarkan kepada-nya untuk ke hutan bersama.” Sahut ayah-ku yang mulai menjalan-kan mobil.
          Sepertinya harapan-ku agar Mr. Smith tidak mengetahui pembicaraanku dengan ayah-ku sirna. Ketika aku berhenti berbicara, Mr. Smith dan ayah-ku langsung berbisik dan kemudia tertawa. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi aku tahu apa yang mereka bicarakan. Sekarang rasa malu terhadap Mr. Smith yang tersisa di dalam diri-ku saat ini.
          Ayah-ku mengantar-kan Mr. Smith sampai tepat depan rumah-nya. Aku baru melihat ada sebuah rumah di jalan menuju hutan ini, tapi kenapa aku kemarin tidak melihat-nya. Ketika Mr. Smith turun dari mobil dan mengucap-kan rasa terima kasih, aku melihat ke-arah rumah. Ada sesosok remaja yang baru saja masuk ke dalam rumah. Aneh sekali karena remaja itu seperti-nya pernah aku lihat, tapi aku tidak bisa melihat wajah-nya karena sosok itu membelakangi-ku.
          Se-sampai-nya di rumah, terlihat sebuah mobil yang ter-parkir di depan rumah. Ketika berhenti dan turun dari mobil, saya bergegas lari menuju arah mobil berwarna merah itu.
          “Wow ayah,,,, apa ini mobil yang ayah janji-kan kepada ku?” Pertanyaan-ku dalam bahasa Indonesia. Rasa kagum-ku terlihat ketika aku menyentuh mobil tersebut, seakan aku sedang menyentuh kain sutra yang sangat lembut dan didambakan setiap gadis.
          “Bagaimana, apakah kau suka?” Jawaban yang memperjelas bahwa mobil merah itu benar-benar milik-ku.
          “So…. Good.” Senyum manja-ku menyenang-kan hati ayah-ku. Kini aku tidak perlu diantar ayah untuk pergi kuliah. Aku akan merawat mobil ini dengan baik.
          Ke-esok-an hari-nya aku berangkat ke kampus-ku. Ada hal yang membuat-ku merasa sangat gerah adalah ketika aku masuk kelas dan dua buah mata menatap-ku tajam, dari awal sampai berakhir-nya mata-kuliah. Hal yang sama seperti hari kemarin terjadi lagi. Pria yang mengikuti-ku kemarin, kembali mengkuti aku.
          Jika seandainya kita dikuti orang yang belum kita kenal, maka rasa takut dan rasa gerah akan melanda kita. Perasaan itu yang tengah aku rasakan. Tapi aku tidak berani bertanya ataupun marah kepada-nya. Aku takut sekali, dia seperti ingin melakukan sesuatu kepadaku. Kenapa harus aku yang diikuti, apa dia orang gila yang mempunyai obsesi, aku takut sekali. Rasanya aku ingin keluar dari per-kuliah-an ini, tapi aku sadar, aku tidak boleh menyerah karena orang ini.
          Pada akhirnya, ada suatu kejadian ketika aku dalam keadaan menstruasi, emosi-ku memuncak. Ketika dia datang dan mengikuti-ku lagi, aku mulai merasa marah. Di suatu restoran, aku sedang makan dengan teman-teman baru-ku disini. Seperti biasa aku masih diikuti. Teman-teman aku mulai merasa terganggu dan menyuruh-ku untuk mengambil tindakan agar dia tidak mengikuti aku lagi.
          Akhirnya aku mengambil gelas yang berisi minuman di depan aku. Ku berjalan ke arah pria itu yang akhirnya aku tahu nama-nya, Tylor. Dengan rasa amarah aku menumpah-kan minuman-ku ke wajah-nya dan mengucapkan kata-kata yang buruk di-ucap-kan di Negara asal-ku.
          “apa kau gila. Kenapa kau mengikuti aku. Jika kau ingin mengincar gadis-gadis seks yang bisa kau rayu, maaf bukan aku orang-nya. Dasar kau pengutip.” Kata-ku dengan nada marah dan sangat kasar untuk didengar. Semua orang memandang ke arah-ku, sedangkan tylor masih dengan tatapan yang sama terhadap-ku. Rasa malu mulai menghantui-ku saat itu dan akhir-nya ku di tarik teman-teman-ku untuk pergi dari tempat itu.
          Hari berikut-nya aku pergi ke kampus. Dalam pikiran-ku, semoga saja Tylor tidak me-ngutip aku lagi. Jika memang masih terjadi hal seperti itu, mungkin aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari kemarin. Sebenarnya kemarin aku sudah merasa kasihan kepada-nya, bagaimanapun tindakan yang aku lakukan kemarin adalah tidak benar. Kini perasaan lega an bersalah bercampur menjadi satu.
          Aku masuk ke dalam kelas seperti biasa. Berjalan santai sambil melirik ke arah bangku yang biasa di tempati Tylor di samping pintu. Tapi kali ini bangku itu kosong dan tak berpenghuni. Bahkan ketika waktu mata kuliah sudah mulai habis, bangku itu masih kosong. Dia hilang entah kemana. Aku bertanya pada teman yang duduk di sampingku tentang Tylor, tapi dia juga tidak tahu alasan ketidak berangkatan Tylor.
          Ha…h, ini membuat aku merasa sangat bersalah dan berpikir bahwa tindakan-ku sangat keterlaluan. Mungkin saja dia tidak berangkat karena sedang sakit, atau mungkin merasa malu terhadap diriku dan merasa sudah tidak punya muka dihadapan teman-temannya karena perbuatanku kemarin. Tetapi sejauh pengetahuan-ku Tylor sama sekali tidak ber-sosialisasi dengan orang-orang yang ada di kampus ini. Dia hanya bergaul dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang kabarnya adalah kakak laki-laki dan adik perempuan Tylor yang sama-sama kuliah disini.
          Kakak laki-laki Tylor sebenarnya adalah kakak senior dalam hal semester. Sedangkan adik perempuan Tylor, tingkat semesternya sama dengan Tylor tapi berbeda jurusan mata kuliah dengn Tylor. Mereka selalu bertemu ketika jam istirahat, dan yang mereka lakukan adalah seperti Tylor, melihat-ku. Entah kenapa aku lebih terganggu pada Tylor daripada kedua saudaranya. Tapi itu mungkin mata Tylor yang lebih tajam ke arah-ku tanpa berpaling, dibandingkan kedua saudaranya yang kadang memalingkan wajah setelah melihat-ku.
          Hari ini ternyata mereka semua tidak hadir di kampus. Mereka seperti merasa terhina dengan ucapan-ku kemarin. Uh………… kenapa sekarang aku yang jadi merasa bersalah…. Bukankah harusnya aku merasa senang jika mereka tidak berangkat. Tapi ketidak berangkat-an mereka membuat-ku semakin merasa bersalah.
          Dua hari berikut-nya mereka masih tidak berangkat. Ada yang bilang kalau mereka sudah keluar dari kampus ini. Ada juga yang bilang bahwa mereka sedang mengalami sebuah kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Selain itu, ada juga yang bilang bahwa mereka merasa tersinggung oleh-ku, karena sebelumnya tidak ada orang yang mau berurusan dengan makhluk berwajah dingin seperti mereka.
          Pada hari berikutnya kakak laki-laki dan adik perempuan tylor sudah berangkat ke kampus seperti biasa. Tapi Tylor masih belum menampak-kan batang hidungnya. Tylor masih saja tidak terlihat oleh-ku dan teman-teman-ku.
          Berbicara tentang kedua saudara Tylor. Mereka hari ini tampak sangat berbeda. Mereka terlihat seperti dua orang yang telah ber-pergi-an jauh. Mata lelah masih tampak di mata mereka. Hal itu terlihat ketika adik perempuan Tylor melihat-ku sambil tersenyum manis ketika aku melihat-nya.
          Tiga hari kemudian. Hari ini aku berangkat ke kampus diantar oleh Mr. Logan yang kebetulan datang kerumah-ku pagi-pagi sekali. Kebetulan juga mobil-ku hari ini sedang mogok dan akan diperbaiki ayah-ku nanti. Jadi, dari pada diantar ayah-ku, lebih baik aku menumpang mobil Mr. Logan karena mobil-nya lebih bagus.
          Mobil Mr. Logan berhenti ketika sampai di pertiga-an jalan di timur kampus-ku, sekitar 100 meter. Mr. Logan tidak harus mengantar-kan aku sampai ke kampus dan aku juga tidak ingin merepotkan beliau. Jadi, aku memintanya untuk menurun-kan aku disini. Lagi pula, jalan kaki lebih terasa sehat.
          Entah kenapa kali ini pikiran-ku tidak menggunakan konsentrasi. Au berjalan seperti mayat hidup dan tidak memperhatikan sekeliling-ku. Aku hanya melihat jam yang ada dalam handphone-ku. Karena terlalu melamun melihat handphone-ku, tidak terasa aku telah berjalan di tengah jalan. Tiba-tiba terdengar suara klakson bus di depan-ku. Aku terkejut setengah mati, tubuh-ku seakan tidak bisa digerakan. Bahkan ketika aku melihat bus tersebut sudah berada satu meter di depan-ku karena kecepatan yang digunakan sang supir bus.
          Waktu seakan terasa terhenti selama lima detik. Tiba-tiba aku sadar, aku sudah berada di pinggir jalan. Aku merasa seperti ada yang memeluk-ku saat itu. Benar saja, aku ternyata di selamat-kan oleh Tylor. Perasaan yang muncul saat itu adalah hangat, seakan aku merasa terlindungi dari sesuatu yang bisa membunuh-ku. Sangat terharu.
          Dalam penyelamatan itu, Tylor mengalami luka lecet yang besar pada lengan kanan-nya.
          “Thank,,, t,, tha,, thank you.” Ucapan terima kasih yang ku ucapkan dengan terbata-bata. Tylor hanya tersenyum kepada aku dan langsung berdiri sambil menggendong aku menuju ke dalam kampus. Saat itu aku masih belum bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya melihat wajah-nya yang terlihat seperti berkilau. Sangat mempesona.
#


 (tunggu cerita berikutnya ya.....................)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

daftar populer